Langsung ke konten utama

Ketinggian Al-Qur'an

Ketinggian Al-Qur'an



1. Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al Qur'an) dan sunnah Rasulullah Saw. (HR. Muslim)
taroktu fiikum amraini maa lan tadhilla ba`dahuu maa ini` tashomtum bihii kitaaballaahi wa sunnata rasuulihi
تَرَكْتُ فِيْكُمْ اَمْرَيْنِ مَا لَنْ تَضِلُّ بَعْدَهُ اِنْ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كَتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِهِ

2. Sesungguhnya Allah, dengan kitab ini (Al Qur'an) meninggikan derajat kaum-kaum dan menjatuhkan derajat kaum yang lain. (HR. Muslim)
Penjelasan:
Maksudnya: Barangsiapa yang berpedoman dan mengamalkan isi Al Qur'an maka Allah akan meninggikan derajatnya, tapi barangsiapa yang tidak beriman kepada Al Qur'an maka Allah akan menghinakannya dan merendahkan derajatnya.

3. Apabila seorang ingin berdialog dengan Robbnya maka hendaklah dia membaca Al Qur'an. (Ad-Dailami dan Al-Baihaqi)

4. Orang yang pandai membaca Al Qur'an akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti, dan yang membaca tetapi sulit dan terbata-bata maka dia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Sebaik-baik kamu ialah yang mempelajari Al Qur'an dan mengajarkannya. (HR. Bukhari)

6. Orang yang dalam benaknya tidak ada sedikitpun dari Al Qur'an ibarat rumah yang bobrok. (Mashabih Assunnah)

7. Barangsiapa mengulas Al Qur'an tanpa ilmu pengetahuan maka bersiaplah menduduki neraka. (HR. Abu Dawud)

Penjelasan:
Maksud hadits ini adalah menterjemah, menafsirkan atau menguraikan Al Qur'an hanya dengan akal pikirannya sendiri tanpa panduan dari hadits Rasulullah, panduan dari para sahabat dan ulama yang shaleh, serta tanpa akal dan naqal yang benar.

8. Barangsiapa menguraikan Al Qur'an dengan akal pikirannya sendiri dan benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan. (HR. Ahmad)

9. Barangsiapa membaca satu huruf dari Al Qur'an maka baginya satu pahala dan satu pahala diganjar sepuluh kali lipat. (HR. Tirmidzi)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kedudukan Dalil Rasional dalam Ilmu Tauhid

 Kedudukan Dalil Rasional dalam Ilmu Tauhid Ketika membahas tentang aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah-Maturidiyah), ada beberapa orang yang mengatakan bahwa Asy'ariyah tak punya dalil, bicara tanpa dalil, hanya akal-akalan, hanya berfilsafat dan sebagainya. Mereka mengira bahwa yang dimaksud dengan dalil hanyalah teks berupa ayat, hadits, dan nukilan pendapat ulama saja. Anggapan semacam ini muncul sebab tak paham bagaimana sesungguhnya dalil itu dan apa saja klasifikasinya.  Imam al-Amidy dalam karya monumentalnya, al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm, mendefinisikan dalil sebagai berikut: وَأَمَّا حَدُّهُ عَلَى الْعُرْفِ الْأُصُولِيِّ، فَهُوَ مَا  يُمْكِنُ التَّوَصُّلُ بِهِ إِلَى الْعِلْمِ بِمَطْلُوبٍ خَبَرِيٍّ، وَهُوَ مُنْقَسِمٌ: إِلَى عَقْلِيٌّ مَحْضٌ، وَسَمْعِيٌّ  مَحْضٌ، وَمُرَكَّبٌ مِنَ الْأَمْرَيْنِ. "Adapun definisi dalil menurut para ahli ushul fiqh adalah sesuatu yang dengannya memungkinkan untuk sampai kepada pengetahuan yang bersifat berita (...